Perubahan besar di Desa Samo tidak datang melalui program pangan. Ia datang bersama industri kayu. Pada akhir 1980-an, perusahaan logging mulai masuk ke wilayah Gane Barat Utara. Jalan-jalan bekas perusahaan masih bisa ditemukan hingga hari ini, membelah kebun dan hutan warga.
Bersamaan dengan itu, pola hidup masyarakat mulai berubah.
Adi Hasyim masih mengingat masa ketika hampir semua warga menanam padi ladang.
Dulu kalau buka kebun, pertama tanam padi dulu,” katanya.
Setelah beberapa kali panen, lahan baru ditanami kelapa, pala, atau cengkih. Tetapi sejak perusahaan kayu masuk, banyak warga mulai bekerja sebagai tenaga harian. Mereka memperoleh uang tunai secara lebih cepat dibanding menunggu panen padi. Dari sinilah perubahan besar dimulai.
Ketika uang tunai mudah diperoleh, kebutuhan pangan tidak lagi dipenuhi dari kebun sendiri. Warga mulai membeli beras dari toko. Tradisi menanam perlahan ditinggalkan.
Ekonomi uang menggantikan ekonomi subsisten. Fenomena ini sebenarnya bukan hal unik di Halmahera Selatan.
Di banyak wilayah pedesaan Indonesia, masuknya industri ekstraktif sering mengubah relasi masyarakat dengan pangan. Pertanian pangan dianggap kurang menguntungkan dibanding tanaman komoditas atau pekerjaan berbasis upah.
Masalahnya, ketergantungan pangan selalu mengandung risiko.
Harga beras bisa naik sewaktu-waktu. Distribusi bisa terganggu. Biaya logistik di wilayah kepulauan sangat mahal.
Dalam kondisi seperti itu, desa kehilangan bantalan keamanan pangan.
Ketika masyarakat berhenti menanam, mereka kehilangan kontrol atas sumber makanan mereka sendiri. Perubahan itu juga mengubah relasi sosial di desa.
Dulu musim tanam padi menjadi kegiatan kolektif. Warga saling membantu membuka kebun dan menanam. Kini hubungan ekonomi semakin individual. Orang bekerja untuk memperoleh uang, lalu membeli kebutuhan masing-masing.
Bahkan generasi muda semakin jauh dari dunia pertanian. Bertani dianggap tidak menjanjikan. Mereka lebih tertarik pekerjaan yang memberi pendapatan cepat. Dalam jangka pendek, perubahan ini mungkin terlihat menguntungkan. Namun dalam jangka panjang, desa menghadapi ancaman serius: hilangnya kemampuan memproduksi pangan sendiri.
Ketika harga pangan naik, masyarakat menjadi kelompok paling rentan.
Ironisnya, semua itu terjadi di tengah melimpahnya sumber daya alam.
Halmahera Selatan memiliki lahan luas dan curah hujan tinggi. Tetapi kemampuan memproduksi pangan justru rendah. Ini menunjukkan bahwa persoalan pangan bukan sekadar soal ketersediaan lahan.
Yang menentukan adalah arah pembangunan. Selama desa didorong hanya menjadi penghasil komoditas pasar, tanaman pangan akan terus tersingkir.
Padahal pangan tidak bisa diperlakukan semata sebagai barang dagangan.
Ia berkaitan langsung dengan keberlangsungan hidup masyarakat. Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya bagaimana meningkatkan produksi pangan.
Yang lebih mendasar adalah bagaimana mengembalikan nilai sosial dan politik pangan di tingkat desa. Tanpa itu, masyarakat akan terus terjebak dalam logika pasar: menjual hasil kebun untuk membeli makanan yang seharusnya bisa mereka tanam sendiri.
Harga kopra yang lumayan bagus membuat petani mengubah ladang dengan tanaman kelapa, coklat dan pala. Tahun 1986 petani masih bertanam padi, setelahnya tidak lagi. Dulu padi menjadi tanaman awal ketika lahan dibuka. Proses tanam dilakukan hingga beberapa kali kemudian diganti tanaman kelapa. Kelapa menjadi tanaman penting warga karena bisa menjadi sandaran hidup mendapatkan uang.
Memasuki era 1990-an warga bekerja di perusahaan kayu PT Barito. Dari situ makin banyak orang beralih kerja dari pekebun menjadi karyawan harian lepas.
Sejak para petani bekerja di perusahaan itulah, kebiasaan warga mengandalkan beras dari padi yang ditanam mulai terkikis. Mereka mudah mendapatkan uang dan mampu membeli beras yang dijual perusahaan maupun pedagang di kampong.Kondisi itu terbawa sampai sekarang meski perusahaan telah angkat kaki sejak tahun 2003 tradisi yang hilang itu tak kembali. Warga seperti sudah terbiasa memenuhi pangannya dengan membeli.
Minimnya warga menanam padi ladang tergambar dari data desa. Pada 2025-2026 ada petani kurang lebih 150 KK. Sisanya nelayan dan profesi lain, namun hanya satu petani menanam padi. (*)
Leave a comment