Home Fokus Kerja Bertahan Olah Sagu, di Tengah Lahan Tergerus Tambang
Fokus Kerja

Bertahan Olah Sagu, di Tengah Lahan Tergerus Tambang

Share
Mengangkat pokok sagu yang telah dihaluskan untuk dimasukan ke temat peremasan agar didapatkan tepung sagu
Share


Minggu (26/11/2023) sore sekira pukul 17.00 WIT itu, Abdurahman Jabir (48) belum beranjak dari tempat olah sagunya di bantaran Sungai Sagea, tak jauh dari kampung Sagea Weda Tengah Halmahera Tengah. Dia bantu pamannya Anwar Ismail (65) mengangkat tepung sagu yang mengendap di dalam perahu–wadah penampung tepung sagu. “Om Anwar hanya bantu saya karena mau cari sagu untuk makan, bukan untuk dijual,” kata Abdurahman.
Sebelum menga mengangkat tepung, mereka menghaluskan potongan pokok sagu menggunakan mesin parut. Setelah itu memerasnya memanfaatkan sumber air Sungai Sagea yang beberapa waktu lalu alami kekeruhan diduga akibat aktivitas tambang di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sagea.
Hari itu tepung sagu terisi dalam tiga karung besar. Hasil dari setengah pohon sagu yang panjangnya kurang lebih 15 meter. Batang pohon sagu itu diambil bagian pangkal dan ujung pohon. “Kita ambil pangkal dan ujung untuk memastikan sagu ini berisi atau tidak,” kata Abdurahman. Batang pohon sagu itu dipotong ukuran sehasta kurang lebih 20 potong setelah itu dibelah dan dibersihkan. Selanjutnya digiling dan diperas pakai air.
Keberadaan pohon sagu ini jauh dari mesin parut dan alat perasan sagu. Untuk mencapainya menggunakan perahu menyusuri Sungai Sagea kurang lebih 500 meter. Setelah itu turun di tepi sungai, lalu jalan kaki kurang lebih 1, kilometer mengambil batang sagu yang ada.
“Hasil kerja seharian langsung diborong warga karena telah dipesan sebelumnya,” kata Abdurahman.
Pohon sagu yang diolah adalah milik orang tuanya yang belum dijual meski berbatasan langsung dengan dua konsesi tambang di wilayah itu.
Sekadar diketahui saja di Sagea ini hamper semua lahan telah ludes terjual ke perusahaan termasuk kebun sagu. Sagu di sini sangat terancam dengan kehadiran industri ekstraksi tambang nikel.
Abdurahman yang sehari-hari disapa Mano oleh warga kampungnya, adalah orang Sagea tersisa yang masih konsisten mengolah sagu. Tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan keluarga tetapi juga jadi sumber pendapatan menghidupinya
Bagi dia mengolah sagu itu sama dengan melestarikan pangan peninggalan para tetua mereka. Di Sagea sebenarnya mereka turun temurun olah sagu. Tetapi sejak marak kegiatan pertambangan, tidak ada lagi yang pukul sagu. Padahal warga dari dulu hingga sekarang masih menjadikan sagu sebagai makanan pokok. “Kalau kerja olah sagu ini kan kotor jadi mungkin mereka tidak tertarik lagi,” katanya berseloroh.
Padahal katanya setiap hari warga cari sagu untuk dimakan. Karena itu tepung sagu mentah maupun yang telah dibakar dalam bentuk lempengan mesti didatangkan dari Kecamatan Patani di Halmahera Tengah maupun dari Maba Kabupaten Halmahera Timur.
Kurangnya sagu membuat hasil olahanya laris manis. Ukuran satu karung beratnya 40 kilogram harganya mencapai Rp300 ribu.
“Mengolah pohon sagu ini tidak lama. Satu hari kerja sudah bisa dapatkan dua karung sagu. Jika jadi tepung sagu dan sudah dikarungkan, pembeli langsung datang dan bayar,” katanya.
Apalagi jika diolah atau dimasak dalam bentuk lempeng atau dikenal dengan sagu lempeng, keuntungannya berlipat. Satu karung tepung sagu seharga Rp300 ribu menghasilkan Rp700 ribu sampai Rp750 ribu.
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dia tidak mampu layani. Sagu yang telah dikarungkan langsung diambil para pedagang untuk diolah atau langsung dijual lagi.
“Lahan kebun masyarakat hamper semua sudah dijual. Tetapi punya orang tua kami tidak dijual sehingga saya bisa olah seperti sekarang. Ini sumber hidup kami. Dari dulu orang Sagea ini olah dan makan sagu. Kalau kita jual nanti tidak bisa olah sagu lagi,” katanya.
Dia bilang, olah sagu menjadi pekerjaan utama warga sebelum perusahaan tambang masuk ke daerah Weda. Dulu mayoritas warga menjadikan sagu tidak hanya sebagai sumber pangan tetapi juga sumber pendapatan.
Dia cerita, dia olah sagu sudah hamper 20 tahun. Dari sagu dia bisa sekolahkan anak-anak dan bisa hasilkan uang menunjang hidupnya.

“Orang yang masih olah sagu di Sagea ini tersisa saya dan Slamet. Bahalo sagu (mengolah sagu,red) ini kami sudah jadikan pekerjaan utama. Meski ada perusahaan tambang nikel beroperasi, kami pilih tetap olah pohon sagu yang tersisa di kampong Sagea ini,” jelasnya.
Olah sagu ini memberikan pendapatan harian. Dikerjakan sendiri dalam sehari bisa dapatkan uang ratusan ribu. Tidak perlu menunggu lama.
“Jadi sehari, mampu menghasilkan uang Rp 600 ribu. Itu juga sudah ada tepung sagu yang bisa dimasak untuk popeda atau dibuatkan jenis makanan lain,”katanya.
Dia bilang, mengolah sagu ini sangat mudah mendapatkan uang dibanding bekerja di perusahaan tambang. “Kerja di tambang itu harus disiplin dan penuh waktu,” ujarnya. Kalau mengolah sagu, bekerja dan istrahat diatur sesuka hati. Jika mau memforsir sehari harus mengolah sagu dan mendapatkan dua karung sagu kerja 7 atau 8 jam. Bisa saja dikerjakan sendiri atau bersama teman.
“Saya biasanya kerjakan sendiri. Hanya saja kali ini karena ada paman mau sama sama olah sagu untuk makanan, maka kita bersama olah satu pohon sagu. Jika dikerjakan dua orang, dalam sehari dapatkan tiga karung sagu yang siap dijadikan bahan makanan juga dijual,”katanya.
Karena prospek dalam mengolah sagu ini dia masih optimis sagu bisa hidup dan memberi pendidikan bagi anak anaknya. .
“Di mana mana orang butuh sagu untuk beragam makanan tidak hanya untuk popeda. Sementara yang olah sagu makin berkurang ini,” katanya.
Meski begitu, dia akui ada satu hal yang masih hambat aktivitasnya membantu masyarakat Sagea memenuhi pangan dari sagu. Saat ini olah sagu tidak lagi seperti dulu, menggunakan alat pukul sagu yang biasa disebut pakawela. Rata rata sudah gunakan mesin maka dia sangat butuh bantuan alat itu untuk penggilingan empulur atau pokok sagu. Selain itu butuh perahu dan mesin angkut batang pohon sagu yang sudah dipotong potong pendek. Hal ini karena dia ambil pokok sagu melewati sungai.
“Tempat olah sagu kita agak jauh dari kampung. Melewati sungai karena itu kita sangat butuh selain mesin parut juga perahu untuk alat angkut,” harapnya.
Saat ini dia tidak miliki alat angkut berupa perahu. Karena itu harus pinjam perahu nelayan milik tetangganya ketika belum melaut.


“Saya berharap ada bantuan dari pemerintah terutama mesin parut dan perahu. Sebab yang saya lakukan ini bagian dari ikut memberi makan masyarakat terutama menyiapkan pangan sagu,”katanya.

Terancamnya sagu dari kehidupan warga Sagea ini diakui Subhan Somola pemerhati sagu di Halmahera Tengah. Subhan yang juga pejabat di Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Pemkab Halmahera Tengah itu, telah banyak mendampingi kelompok masyarakat pengolah sagu sejak 2010 lalu. Perhatiannya terhadap pengolahan pangan lokal terutama sagu sudah kurang lebih 14 tahun belakangan. Perhatian ini kata Subhan karena pohon sagu banyak dibiarkan mati, sementara kebutuhan pangan sagu di masyarakat sangat tinggi.
Secara ekonomi harga sagu olahan dalam bentuk sagu lempeng di pasaran sangat menggiurkan. Bahkan harganya lebih mahal dari beras. Karena itu mestinya pengelolaan sagu berbasis industri harus didorong oleh Pemda sebagai salah satu program ketahanan pangan lokal menghidupi petani sagu yang selama ini hanya menggunakan peralatan seadanya tanpa pendampingan berkelanjutan.
Sejauh ini sudah ada sekira 30-an kelompok kecil di berbagai daerah di Halmahera Tengah didampingi dengan fokus pengolahan Sagu lempeng Rumbia melalui Badan Usaha Milik Desa. Tentu dengan sistim dan manajemen usaha yang teritegrasi dari hulu hingga hilir. Mengunakan kemasan karton yang lebih elegan dan terhormat. Dengan begitu diharapkan pangan lokal sagu bisa naik kelas sebagai pangan terhormat di negerinya sendiri.


“Kebutuhan sagu lempeng cukup tinggi, tidak berbanding lurus dengan ketersediannya. Awal kegiatan usaha ini mampu menghasilkan ratusan karton sagu yang terjual. Namun kendala pengolahan sagu di hulu, mengakibatkan kegiatan pengolahan di hilir tidak berjalan baik,”jelasnya.
Selain itu kelompok-kelompok binaan dampingan ini juga memiliki problem internal mengakibatkan kegiatan usahanya tersendat akhirnya ada yang vakum.
Hingga kapan pun Sagu masih sangat layak dikembangkan sebagai bahan pangan lokal di Maluku Utara dan bagian timur Indonesia
Di Halmahera Tengah terutama daerah lingkar tambang warga sudah malas olah sagu secara umum karena kendala akses jalan ke lokasi lahan/hutan sagu.
Perubahan paradigma dan stigma bahwa mengolah sagu itu pekerjaan kotor, susah bahkan tidak menghidupi karena tidak di-manage cara pengelolaan usahanya. Akhirnya petani sagu tiap kali mengolah, habis juga uangnya. Sagu dianggap tidak berdampak secara ekonomi, tidak mensejahterakan petaninya.
Soal tambang yang marak saat ini sebenarnya bukan jadi alasan utama orang meninggalkan pekerjaan sebagai pengolah sagu. Tetapi lebih pada lokasi di mana sagu itu tumbuh sudah dijual pemiliknya atau kawasan hutan sagu dialihfungsikan.
“Karena itu perlu melakukan perlindungan terhadap kawasan hutan sagu untuk tetap menjaga tersediaan sagu dan manfaat ekologinya. Perlunya membangun industri pengolahan sagu yang terintegrasi dan berkelanjutan, sehingga dapat menjadikan negeri ini sebagai lumbung pangan lokal sagu,”katanya.
Selain itu perlu menggalakkan kegiatan ekonomi produktif dari olahan lokal tepung sagu rumbia yang dapat diterima pasar lokal maupun nasional. Menciptakan budaya konsumsi pangan lokal sagu, sehingga terbangun kesadaran sosial ekonominya.
Dr. Erna Rusliana M. Saleh, STP., Msi Ketua Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia Cabang Ternate sekaligus pengurus pusat mengatakan, tergerusnya lahan sagu ini adalah hal yang disayangkan karena ini masalah untuk pangan dan non pangan. Sagu adalah sumber daya yang kaya manfaat. Ketika berkurang lahannya, maka banyak manfaat yang hilang. Manfaat sagu dapat diambil dari empulur, daun, pelepah hingga batangnya. Dari empulur didapatkan pati sagu yang manfaatnya sangat luas untuk pangan dan non pangan. Selain industri pangan, pati sagu bermanfaat untuk industry kertas, farmasi, tekstil, pestisida hingga bahan bakar alternative non migas.

Dia bilang, sagu adalah pangan pokok lokal bagi masyarakat di Malut. Sagu sudah menjadi menu alternatif dalam hajatan dan keseharian masyarakat Malut, yang tidak pernah disajikan masyarakat di Jawa, Kalimantan atau Sumatera. Sehingga dari aspek pangan tentu sangat prospektif. Disamping adanya perkiraan ancaman krisis pangan bisa melanda banyak Negara terutama beras dan pangan import, maka sagu sangat prospektif menjadi solusi terhadap hal ini. Khususnya di Maluku Utara yang masyarakatnya telah menjadikan sebagai pangan pokok.

“Sagu memiliki potensi untuk mensubstitusi sumber kabohidrat dari beras atau gandum. Hal ini dikarenakan, dari sekian sumber karbohidrat seperti beras, jagung, kentang, ubi, dan sagu, maka sagu memiliki tingkat produktivitas tertinggi. Produktivitas tanaman Sagu dapat mencapai 10-15 ton/Ha/thn, sedangkan tanaman padi sekitar 3 ton/Ha/thn, tanaman jagung sekitar 5 ton/Ha/thn, tanaman kentang 2,5 ton/Ha/thn, tanaman ubi kayu 5-6 ton/Ha/thn dan tanaman ubi jalar sekitar 5,5 ton/Ha/thn,” jelasnya.
Dari segi kesehatan sagu merupakan sumber karbohidrat yang sehat terutama bagi kalangan penderita diabetes. Hal ini dikarenakan Indeks Glikemik (IG) sagu yang rendah dibanding beras. IG sagu
hanya sekitar 40, sedangkan IG beras 70. Tepung sagu juga termasuk jenis tepung yang bebas Gluten. Gluten sering diasosiasikan dengan penderita alergi, gangguan pencernaan, hingga auto-imun. Sagu juga mengandung antioksidan yang berguna untuk menekan radikal bebas di tubuh, mencegah penyakit kronis seperti kanker.
Sehingga jika sagu ini tetap ditanam dan tidak tergerus lahannya maka dia dapat menjadi sumber karbohidrat berproduktifitas tinggi, prospektif dan sehat.
Bagi dia yang utama sebenarnya adalah bukan karena peralihan pangan sagu ke beras, tapi karena peralihan lahan sagu menjadi tambang. Peralihan pangan dari sagu ke beras bukanlah hal baru. Ini sudah terjadi sejak masa Soeharto. Namun berkurangnya pengolahan sagu baru terjadi dalam lima tahun terakhir sejak lahan pertanian khususnya sagu beralih menjadi lahan tambang.
Adanya fakta bahwa pengusaha bihun yang perlu memasok bahan baku sagu dari Riau dan Sumatera karena pati sagu tidak dapat dipenuhi oleh pengusaha lokal. “Ini manjadi bukti kekurangan pasokan sagu dari dalam Malut, sementara kebutuhan masih tinggi. Dari segi mutu pengusaha mengakui, mutu pati sagu Malut lebih bagus dan bersih,” katanya.
Karena itu katanya untuk mengembalikan sagu menjadi tuan di kampungnya, yang utama tetap menjaga kontinuitas produksinya didukung dengan ketersediaan lahan. Permasalahan teknologi produksi yang kadang menjadi masalah lamanya waktu proses dalam pengolahan, dapat diatasi dengan menyiapkan teknologi tepat guna yang mampu mempersingkat waktu proses. Hal ini mungkin, jika ada political will dari pemerintah yang mendukung petani dengan program intensifikasi dan ekstensifikasi yang berorientasi pada kepentingan masyarakat luas, tidak hanya segelintir kalangan investor.

Share

Leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles
Fokus KerjaInspiration

FOSHAL Gerakkan  Kelompok  Perempuan Konservasi  Mangrove di Kayoa

Pulau-pulau kecil dengan hutan mangrove yang dimilikinya, memiliki peran penting bagi kehidupan....

Fokus KerjaInspirationMari BeraksiProgram Foshal

Krisis Iklim dan Pangan Lokal di Pulau Kecil

There is evidence that the food industry designs ultra-processed foods to be...

Fokus Kerja

Hilangnya Tradisi Padi Ladang di Halmahera

There is evidence that the food industry designs ultra-processed foods to be...

Fokus KerjaProgram Foshal

Dari Hutan ke Pasar: Saat Uang Mengalahkan Pangan Lokal

There is evidence that the food industry designs ultra-processed foods to be...