Oleh: Mahmud Ichi
Direktur Eksekutif FOSHAL Maluku Utara
Krisis Iklim
Perubahan iklim adalah, perubahan jangka panjang dalam pola suhu, curah hujan, dan fenomena cuaca lainnya di Bumi. Perubahan ini bisa disebabkan oleh faktor alami seperti letusan gunung api dan variasi matahari. Yakni perubahan energy yang dipancarkan oleh matahari. Namun kini aktivitas manusia menjadi penyebab utama percepatan perubahan iklim, terutama sejak Revolusi Industri.
IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), badan antarpemerintah di bawah naungan PBB untuk menilai perubahan iklim menyebutkan, suhu rata-rata bumi telah meningkat sekitar +1.2°C sejak akhir abad ke-19, dan diprediksi bisa melebihi +1.5°C jika tidak ada tindakan serius secara global.
Semakin dalam ditelusuri, permasalahan iklim yang hadir di masyarakat multifactor.Meliputi sebagian besar kehidupan bermasyarakat. Peningkatan permukaan laut, abrasi pantai, kekeringan, banjir dan menurunnya produktivitas perikanan maupun pertanian kini menjadi kenyataan dihadapi jutaan warga pesisir. Situasi ini tidak hanya mengancam sumber pangan, tetapi juga mengancam kelangsungan hidup dan identitas sosial masyarakat pulau.
Kerentanan Pangan Masyarakat Pulau Kecil
Krisis iklim telah menambah kerentanan pangan masyarakat di pulau-pulau kecil yang telah mengalami pergeseran pola konsumsi. Kembali ke ragam pangan lokal yang adaptif terhadap kondisi lingkungan dan iklim yang berubah menjadi kunci daya tahan masyarakat kepulauan.
Masalah pangan di pulau-pulau kecil kian mendesak karena ancaman krisis iklim dan ekspansi proyek pembangunan. Banyak upaya diversifikasi pangan demi mendukung ketahanan pangan secara nasional. Pemerintah tidak saja mendorong konsumsi pangan lokal, tetapi juga membuat program meskipun beragam upaya tersebut juga menuai pro dan kontra karena potensi perusakan lingkungan dan marjinalisasi masyarakat yang ditimbulkan.
Gagasan dan Program Pemerintah Soal Pangan
Delapan Asta Cita 2024– 2029 pemerintah adalah mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, serta penguatan sektor ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.
Dalam kerangka ketahanan pangan, strategi pemerintah menekankan pembangunan lumbung pangan dari desa hingga nasional, sebagai langkah konkrit mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan pangan pokok. Mendorong sejumlah inisiatif strategis dalam mengakselerasi ketahanan pangan nasional
Revitalisasi sektor pertanian dan perikanan berbasis desa dan daerah; Penguatan infrastruktur pangan seperti irigasi, gudang penyimpanan, dan distribusi logistik;
Pemberdayaan petani dan pelaku usaha pangan lokal; Pengembangan teknologi pertanian modern untuk peningkatan produktivitas; Kolaborasi lintas sektor antara pusat dan daerah, serta dengan dunia usaha dan akademisi; Diversifikasi pangan guna memanfaatkan potensi lokal secara optimal. Kemandirian pangan bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan bagian dari kedaulatan nasional.
PPangan Masyarakat Pulau Kecil di Malut
Data Jumlah Pulau di Malut berbeda-beda.
Yang umum digunakan adalah 805 pulau dengan 82 pulau di antaranya berpenghuni. Pulau yang ada, memiliki kekayaan pangan masing- masing.
Hasil identifikasi sumber daya genetik (SDG) tanaman pangan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Malut 2020 menunjukkan keragaman aksesi pangan local, setidaknya, ada 49 tanaman pangan dan holtikultura yang terdaftar di Pusat Pendaftaran Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP) Kementerian Pertanian (Kementan). Aksesi tanaman adalah sampel atau koleksi benih yang mewakili satu spesies, kultivar, galur, atau populasi tumbuhan tertentu.

Yang umum digunakan adalah 805 pulau dengan 82 pulau di antaranya berpenghuni. Pulau yang ada, memiliki kekayaan pangan masing- masing.
Hasil identifikasi sumber daya genetik (SDG) tanaman pangan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Malut 2020 menunjukkan keragaman aksesi pangan local, setidaknya, ada 49 tanaman pangan dan holtikultura yang terdaftar di Pusat Pendaftaran Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP) Kementerian Pertanian (Kementan). Aksesi tanaman adalah sampel atau koleksi benih yang mewakili satu spesies, kultivar, galur, atau populasi tumbuhan tertentu.
Kesimpulan:
Kerusakan alam akibat ulah manusia maupun dampak perubahan iklim sekecil apa pun itu, menimbulkan ketidakseimbangan ekologi. Hal ini mengancam kehidupan manusia. Sebagai wilayah kepulauan bicara kebudayaan harus melihatnya sebagai kesatuan yang utuh antara darat dan laut ( Kadara—Kalao)
Menjadi kesadaran bersama keragaman pangan yang dimiliki adalah warisan kebudayaan, maka perlu tetap dijaga. Aksesi pangan local yang begitu banyak harus terus dibudidayakan, termasuk pola konsumsinya.
Penutup:
“Toksik” Beras dan Gandum adalah sebuah fenomena nasional. Ini seharusnya tidak berlaku di Maluku Utara ketika potensi keragaman pangan yang ada dilihat sebagai sebuah kebudayaan.
(Profesor Bambang Purwanto Guru Besar FIB UGM)
Sumber:
1.https://gaw-bariri.bmkg.go.id/index.php/karya-tulis-dan-artikel/gawsarium/243-perubahan-iklim
2.https://mongabay.co.id/2025/10/04/upaya-hidupkan-kembali-pangan-lokal-maluku-utara/,Mahmud Ici
3.https://badanpangan.go.id/
4.Buku Statistik Perkebunan Unggulan Nasional, Dirjen Perkebunan Kementan RI 2020-2022
5.Makalah Profesor Bambang Purwanto, Sejarah Warisan Budaya Tempatan dalam Pembangunan Kebudayaan Integratif Berkelanjutan FIB Universitas Khairun Ternate, 2025
Leave a comment